Tampilkan postingan dengan label REALISASI-JNANA-WIWEKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REALISASI-JNANA-WIWEKA. Tampilkan semua postingan

सधन II. RJW:62

62.
''hidup cuma sekali; sehingga kamu hanya lahir sekali. janganlah kamu jatuh cinta kepada dunia demikian jauh, sehingga hatimu akan rawan (pikiran yang palsu) membawamu berkali-kali tertipu oleh campuran kebahagiaan dan kesedihan (pengalaman dunia objektif). sedikitnya, kamu mundur sedikit kebelakang, jauhkan diri dari keterlibatan di dunia; sadarilah, bahwa semua ini adalah pertunjukkan yang sutradaranya adalah tuhan, kamu dalam bahaya karena terlibat terlalu jauh dalam duniawi. pergunakanlah dunia sebagai tempat latihan, untuk berkorban, pengabdian perluasan hati nurani, pembersihan emosi. hanya itulah makna dunia ini''

--sathya sai

सधन II. RJW:61

61.
''tidurlah didalam kelambu; nyamuk tidak akan dapat mengganggu; demikian juga janganlah diijinkan nyamuk kesenangan (kama), krodha (kemarahan),  dan yang lainnya, untuk mengganggu dirimu. masuklah kamu dalam kelambu sadhana, selama kamu masih di dunia. wujudkanlah dirimu yang tertinggi didunia, tetapi jangan diijinkan keduniawian memasuki dirimu, itulah pertanda kamu berbudi pekerti (wiweka)''

---sathya sai

सधन II. RJW:60

60.
''manusia mengharapkan kedamaian, kebahagiaan dan karunia untuk dirinya. ini dapat dimiliki dengan membayar pajak dalam bentuk meditasi untuk kedamaian, berdoa untuk kebahagiaan dan rahmatnya dan bermacam-macam disiplin bathin lainnya untuk kebaikan yang sepadan. apabila kamu bekerja separuh waktu (part timer), kamu mendapat imbalan separuh. pada masa kini pengabdi pengabdi separuh waktu mengharapkan imbalan penuh untuk pengabdian yang hanya separuh hati. bagaimana kamu mendapatkannya? apabila kamu hanya memberikan separuh hatimu dan mengharapkan imbalan sepenuhnya dari karunia tuhan, hal itu seperti meminta bayaran penuh untuk pekerjaan yang hanya separuh. apabila kamu menyadari dengan sepenuh hatimu, bahwa segala sesuatu yang kamu lakukan atas karunia tuhan, maka pastilah sepenuhnya akan dikabulkan tuhan. cobalah, kamu akan mendapatkannya''

--sri sathya sai

सधन II. RJW:59

59.
''kebahagiaan yang sebenarnya bertahta didalam hati dan pikiran kita. tanpa menggunakan akal budi kita yang semestinya, tanpa mengembangkan rasa ketidakterikatan terhadap badan kita dan tanpa memiliki rasa percaya terhadap yang bersifat ilahi, kita nampaknya tak akan dapat memetik buah tindakan kita. bila kamu jauh dari keinginan untuk mensucikan hati dan bathinmu dan bila sangat cenderung untuk menikmati keinginan indera-indera, kamu tidak akan pernah memetik buah perbuatanmu, meskipun kamu berdoa kepada tuhan untuk memohon karunia-nya''

---sathya sai

सधन II. RJW:58

58.
'' jika hanya untuk memperhatikan kebutuhan tubuh, berilah makanan tiga kali sehari untuk menjaga kelancaran fungsinya, demikian juga , pergunakan waktu sedikit untuk memelihara kesadaran rokhanimu supaya berfungsi. pergunakan satu jam diwaktu pagi, dan lainnya diwaktu malam dan yang ketiga sebelum matahari tenggelam, brahmamuhurtha saat japam dan meditasi untuk tuhan. kamu akan memperoleh ketenangan sebagai sumber kekuatan yang muncul dari dalam setelah maju dalam sadhana. setelah beberapa waktu, hatimu akan terikat pada nama, kapanpun dan dalam kegiatan apapun juga; akhirnya kedamaian akan menjadi temanmu yang akrab''

---sathya sai

सधन II. RJW:57

57.
''kurangilah keinginan-keinginan, hidup sederhana, itulah jalan menuju kebahagiaan. keterikatan menimbulkan kesusahan setelah disadari; dan akhirnya, ketika kematian menuntut bahwa segala sesuatu harus ditinggalkan dan setiap orang juga ditinggalkan, kamu dikuasai kesedihan. jadilah seperti teratai diatas air, dipermukaan bukan didalamnya. air dibutuhkan oleh teratai untuk pertumbuhannya; tetapi tidak memberikan setetespun untuk membasahinya''

---sathya sai

सधन II. RJW:56

56.
''tinggalkan paham keterpisahan dirimu; lihatlah pada semua mahluk hidup, dirimu; dan dirimu pada semua mahluk hidup. itulah penolakan yang tertinggi, penolakan terhadap indra keakuan yang membuat kamu terikat pada tempat yang sementara ini, bungkusan tulang dan daging, berkulitkan nama dan rupa. latihan spirituil terdiri atas dua hal: renungan pada tuhan dan penemuan realitas, hakekat pembawaan seseorang''

---sathya sai

सधन II. RJW:55

55.
'' untuk dapat memiliki pandangan tuhan, kamu harus membersihkan rokhanimu dan melaksanakan kehidupan yang budiman. kita harus menjaga akal budi kita untuk tidak terlibat dalam isu-isu duniawi. akal budi atau kecerdasan jangan digunakan sebagai alat untuk mengenyangkan jasmani dan menggoda mental. sebaliknya ia harus dipergunakan untuk penyelamatan atma. atma harus menjadi saksi yang tak terpengaruh oleh lingkungannya. kemudian ia berada dalam keadaan niwritti. dalam hal ini kerugian kerja tak ada hubungannya dengan niwritti. hanya pengorbanan keinginan orang sajalah yang ada hubungannya dengan niwritti''

---sathya sai

सधन II. RJW:54

54.
''pikiran juga akan hilang secepat penelitian dimulai, karena hal itu berarti seperti kain yang tersusun dari anyaman benang. setiap helai benang merupakan keinginan, sebuah harapan, sebuah keterikatan. sisihkanlah benang itu dan kain itu akan lenyap. khayal itu ibarat kapas, keinginan adalah benang, pikiran merupakan kainnya. melalui wairagya, anyaman dapat dibongkar. sadhana harus mempunyai pengaman pribadinya, yaitu wiweka dan wairagya. sehingga ia dapat bergerak didunia ini tanpa senjata''

---sathya sai

सधन II. RJW:53

53.
'' ananda yang kamu peroleh, bila kamu baik-baik dan berbuat baik, sudah cukup memberikan inspirasi dan cukup berarti. hindarilah segala godaan jatuh kedalam pergaulan jahat. ini akan memberimu rasa kehormatan diri; kamu akan mampu berdiri diatas dasar tujuanmu; kamu tak usah menundukkan kepala dihadapan siapapun. apabila kamu hidup seperti itu, kehidupan itu sendiri adalah suatu prachara yang baik buat-ku. apabila kepalsuan dan kebencian meraja lela ambillah sebagai ujian dari wiweka dan kshama-mu (kesabaranmu)''


---sathya sai

सधन II. RJW:52

52.
''SESEORANG MEMINJAM UANG DARI YANG LAINNYA DAN BERJANJI UNTUK MENGEMBALIKANNYA SETELAH MATAHARI TERBIT BESOK. YANG LAINNYA ITU BERTANYA; ''BAGAIMANA KAMU MEMASTIKAN, MATAHARI AKAN TERBIT DIHARI ESOK?'' DITANYA BEGITU SIPEMINJAM MENJAWAB, ''TETAPI BAGAIMANA KAMU YAKIN BAHWA AKU MASIH HIDUP UNTUK MENGEMBALIKANNYA ATAU KAMU MASIH HIDUP UNTUK MENERIMANYA KEMBALI?'' SEGALA SESUATU MENGENAI KEHIDUPAN  ADALAH TIDAK PASTI. SEHINGGA, MAJULAH TERUS, SEJAK SAAT INI, AMBILLAH PALING SEDIKIT BEBERAPA LANGKAH YANG MENGARAH TUJUAN, SELAGI KAMU MENDAPAT KESEMPATAN. HANYA DENGAN USAHA ITU SAJA MUDAH-MUDAHAN TUHAN BERKENAN MEMBERIKAN KAMU KESEMPATAN HINGGA KAMU MENCAPAI TUJUAN''


---SRI SATHYA SAI BABA

सधन II. RJW:51

51.
''badan adalah wahana yang kamu harus pakai untuk mencapai keadaan bahagia sehingga ia harus dijaga agar sehat dan kuat untuk mencapai tujuan yang tinggi tersebut. ia adalah alat sadhana yang telah diterima karena jasa kehidupan sebelumnya. setiap saat ia berjalan menuju kehancuran sehingga waktu jangan dibuang untuk mengejar hal-hal yang tidak bermanfaat. adalah lebih baik kita menganggap badan sebagai wahana yang bermakna terbatas, dari pada diangkat ketingkat ada dan akhir dari seluruh kehidupan. perlakukanlah sebagai luka yang memerlukan verban (pakaian), obati dengan obat (makanan) dan bersihkanlah (mandi dan minum), kamu dapat melepaskan diri dari keterikatan diluar batas; hanya dengan cara demikian''

---sri sathya sai

सधन II. RJW:50

50.
''apabila setiap orang memeriksa hal ini, apakah kecakapanku? apakah kedudukanku? , ia akan segera menyadari kehancurannya. apakah mau seekor harimau, bagaimanapun laparnya, makan jagung goreng atau biji jambu mente? kejarlah tujuan yang sesuai dengan kelahiranmu; bagaimana mungkin seekor burung kakaktua dapat merasakan manisnya buah mangga, kalau ia mematuk buah pohon kapas? jadikanlah usahamu sesuai dengan martabat tujuan. jangan menjadi lemah dalam usaha, apapun hambatan itu, betapapun jauhnya perjalanan itu''

---sri sathya sai

सधन II. RJW:49

49.
''kedamaian dan kegembiraan yang ia dapatkan sekarang, hanya bersifat sementara; sekarang datang, dan pergi pada waktu beberapa menit berikutnya. kesakitan mengakhiri kegembiraan; kegembiraan karena absennya kesakitan. mengapa manusia harus hidup bertahun-tahun--suatu beban bagi dunia, amat banyak beras dan gandum yang dipergunakan tahun demi tahun, tanpa keuntungan balik berupa kesenangan dan ketenteraman bagi diri seseorang. cahaya lampu petromax akan menyala terang, apabila kamu pompakan angin dengan giat, yaitu hendaknya kamu sibuk dalam sadhana dan terangilah akal budhimu baik-baik dan pancarkan penerangan kepada semua orang yang mendekatimu''

----sathya sai

सधन II. RJW:47

47.
''seseorang haruslah mempraktekkan ketidakterikatannya pada setiap langkah, atau yang lain, kelobaan dan kekikiran akan menguasai hakekat manusia yang lebih baik.
hakekat itu adalah bersifat ilahi, karena tuhan adalah bahan dasar manusia sebenarnya, yakni sebuah nama dan rupa. untuk mewujudkan hal ini , seseorang harus memiliki dan mengembangkan sadhana-catushtaya, yaitu:


nithyaanithya wiweka (membedakan antara yang tidak berobah dengan yang berobah, yang kekal dengan yang sementara ) umpamanya; dengan mengetahui bahwa bumi atau alam raya secara pasti mengalami perobahan dan pergantian, hanya brahman yang tak berobah (stabil);
ihaamutra-phala-bhoga-wiraaga: membebaskan diri dari kesenangan yang diperoleh di sorga, setelah mencapai kepastian, bahwa itu akan pudar dan penuh dengan kesedihan.
samadamaadi-shatkasampaththi: dan pencapaian 6 kecakapan yang diinginkan; pengendalian terhadap indra-indra luar dan dalam dan pancaindra yang tepat, ketabahan ditengah-tengah kesedihan dan kesakitan, kegembiraan dan kemenangan.
uparathi: pengunduran diri dari semua kegiatan yang menimbulkan akibat yang mengikat.
sraddha: kepercayaan atau keimanan yang teguh kepada guru dan teks-teks yang beliau terangkan.
samaadhanam: juga pada perenungan dasar brahman, tanpa terganggu oleh gelombang pemikiran yang lain. meskipun susu dibuat diseluruh badan lembu, kamu harus mempercayakan pada empat buah puting susu untuk memperolehnya; juga 4 sadhana atau puting susu, harus diperah untuk memperoleh kemajuan jnana.''

----sathya sai

सधन II. RJW: 46.

46.
''rahasianya; bukalah pancuran kebahagiaan didalam hati; yang tak pernah gagal, senantiasa penuh, sejuk segar, karena ia keluar dari tuhan. apakah jasmani atau badan itu? itu adalah atma yang terbungkus dalam lima buah selaput, yaitu:
annamaya--selaput yang terdiri dari bahan makanan.
pranamaya---selaput yang terdiri dari daya hidup.
manomaya---selaput yang terdiri dari pikiran.
wijnamaya -- selaput yang terdiri dari akal budhi ( kecerdasan)
anandamaya---selaput yang terdiri dari kebahagiaan.
dengan perenungan yang terus menerus terhadap selaput (kosas) itu, para sadhaka mempertimbangkan untuk mundur atau menghindari satu persatu dari lapisan yang terluar sampai yang terdalam, yang lebih nyata, yaitu ananda. jadi secara bertahap meninggalkan kosa (selaput) itu satu persatu, sehingga mampu meluluhkan semua untuk mencapai pengetahuan tentang kesatuannya dengan brahman.''

--------(sathya sai)

सधन II. RJW: 45


45.


" Setiap inra adalah lubang pintu pengeluaran tenaga manusia , kearah yang mengikatnya dengan dunia objektif. Indra itu diperintah oleh manah untuk bergerak keluar dan mengikatkan diri pada sasaran. manusia harus berusaha menundukkan manah itu dengan akal budi yang berkemampuan membeda-bedakan (Wiweka), dengan demikian manah akan menolong , kalau tidak malah merugikan. Badan adalah kuil Tuhan; Beliau bersemayam dalam hati nurani; akal budhi atau kecerdasan adalah lampu pada altaar ; sekarang setiap hembusan angin yang bertiup melewati jendela dari indra mempengaruhi nyala lampu  dan meredupkan cahayanya, mengancam nyalanya. Nah tutuplah jendela itu; jangan dibuka yang memungkinkan daya tarik langsung benda-benda. Peliharalah Kecerdasan atau budhi supaya tetap tajam, hingga mampu memotong manah seperti intan yang mampu mengeluarkan kilat sinar, padahal tak ubahnya sebagai batu kerikil. Membedakan, Nithyaanithya-Wastu Wiweka, adalah alat yang penting untuk kemajuan spirituil. Akal budhi harus dipergunakan untuk membedakan yang terbatas dengan yang tak terbatas, yang sementara dengan yang kekal. itulah gunanya yang masuk akal. Sangkaracarya memberi judul karyanya atas prinsip Adwaita sebagai Wiweka -Cudamani, karena beliau ingin memberi penekanan pada nilai wiweka untuk menyatakan peleburan kehidupan dan Ke Esaan Alam Semesta."

(Sathya Sai )

सधन II. RJW: 44

44.

" Sekarang mungkin timbul keraguan terhadap Artha-Bhakta , seseorang yang berpaling kepada tuhan, untuk melenyapkan penderitaannya. Kemungkinan timbul pertanyaan, apakah orang semacam itu dapat disebut Bhakta. Tak seorang manusia pun di dunia ini yang tidak menderita kekurangan atau yang lain. Masing-masing tergantung kepada yang lainnya untuk memenuhi keinginannya, bukan?
Sekarang, keinginan terhadap benda-benda, sebenarnya salah; dan bersandar pada orang lain agar memenuhi kebutuhannya, maka kesalahannya akan menjadi lebuh besar. Seorang Artha Bhakta berpaling bukan kepada manusia, tetapi kepada Tuhan, kepada siapa ia menaruh kepercayaan dan penghormatan; ia hanya memohon kepada tuhan saja, agar memenuhi permintaannya. Meskipun salah untuk mendapatakan kebutuhannya, ia menghindari kesalahan besar dengan menaruh kepercayaan kepada sifat yang lebih rendah derajatnya, selain Tuhan. bukankah seorang Artha Bhakta itu termasuk orang yang istimewa? Keutamaan dari sikap dapat dilihat bila kamu mengetahui, bahwa tidak ada keinginanmu yang penting yang kamu harapkan mampu memenuhinya. Tujuannya adalah Tuhan; yang Pemurah dan Pemberi. Kemuliaannya sendiri dapat memberikan berkah; .......sehingga bila kepercayaan ini dimantapkan, kamu dapat meastikan bahwa Artha -Bhakta sangatlah berharga.

Ketiga tipe Bhakta yang disebut dalam Bhagawadgita, yaitu: Aartha-bhakta, Arthaathi-Bhakta, dan Jijnasu, semuanya memuja Tuhan dalam wujudnya yang mutlak, sebagai Paroksha. Mereka mencari tuhan sebagai sarana untuk mewujudkan harapannya  atau tujuannya. Sudah barang tentu ketiga Bhakta tersebut selalu dalam sikap Bhakti, berdoa dan selalu mengingat tuhan, pada setiap saat.

Jnani, bhakta tipe keempat yang dibicarakan bhagawadgita, memiliki Eka-Bhakti, sedang yang tiga lainnya memiliki Aneka-Bhakti; yang terikat kepada obyek atau status obyek yang mereka harapkan dan untuk keperluan itu mereka bertiga sangat terikat juga kepada tuhan. Mereka tidak hanya mengabdi kepada Tuhan, tetapi juga kepada dunia objektif. jnani tidak memalingkan perhatiannya kepada sesuatu selain Tuhan. Walaupun ia mungkin melakukannya, ia melihat Tuhan dimanapun matanya tertuju. Itulah sebabnya Tuhan menyatakan bahwa Jnani itulah yang paling disayang. Sudah tentu semuanya sama bagi Tuhan, tetapi diantara mereka yang telah mencapai keberadaan-Nya  dan ada disana, Prema adalah pasti, Pratyhaksha segera diperoleh , secara langsung diketahui dan dialami. Sehingga, dapat dipastikan bahwa jnani adalah yang paling dekat dengan tuhan dan paling disayang."


(Sathya Sai)

सधन II. RJW: 43


43.

"Kebijaksanaan yang datang dari pengalaman yang nyata seperti air hujan, bila dibanding dengan air laut yang rasanya asin dan tak dapat diminum. Oleh pengaruh sinar matahari, garamnya dipisahkan dan airnya menguap keangkasa menjadi segar dan menghidupkan. Sadhana yang merobah pisik menjadi metafisika adalah kekuatan sinar matahari yang menganugrahkan air laut untuk diminum, sebagai air hujan yang menghidupkan."

(Sathya Sai)

सधन II. RJW: 42

42.

" Kamu harus mengusahakan dirimu dalam Karma -Jinasa, kemampuan untuk membedakan pilihan karma atau aktifitas; kemudian kamu harus memasuki daerah Dharma-Jijnasa, suatu pencarian (penyelidikan) hukum kekekalan atma yang membentuk dan menentukan gelombang kesadaran (peny.;BG. IX-1,34). Akhirnya , kamu memasuki hal pembebasan melalui Brahma-jijnasa, Sadhana yang meyakinkan kamu tentang kenyataan yang Maha Tunggal dan ketidaknyataan dari kebhinekaan, dunia yang tampak didasari oleh Brahman Yang Nyata"


(Sathya Sai)

सधन SADHANA : DISIPLIN SPIRITUIL

Merupakan point-point spiritual yang disarikan dari wejangan Bhagavan Sri Sathya Sai Baba, yang pertama kalinya dihimpun oleh alm. N.Kasturi, "SADHANA The Inward Path Quotations from the divine discourse of Bhagavan Sri Sathya Sai Baba".
yang dialih bahasakan oleh Dr I Dewa Gde Malih.

ओम साईं नमो नम:
श्री साईं नमो नम:
जय जय साईं नमो नम:
सद्गुरु साईं नमो नम: